Senin, 18 Januari 2021

Ketika Dunia Membuatmu Jatuh

 BAGIAN 1 “PERTEMUAN”
Mungkin menemukan kalian adalah rencana paling indah yang di buat oleh semesta
~
Sandra Ayu Puspita, itulah nama gue. 18 tahun dan masih menyandang status siswa. Gue sekolah di SMA PELITA dan sekarang gue adalah siswa kelas 12. gue bukan anak populer dan bukan pula siswa yang pintar. Kehidupan sekolah gue lebih berasa karena gue punya 2 sahabat yang membuat warna di hari-hari sekolah gue, yaitu Gunawan Arjun dan Cika Putri Cantika. Mereka ada disaat gue butuh bahu untuk menyandarkan segala keluhan gue, mereka punya segudang cerita lucu yang buat gue ketawa dan mereka adalah orang baik yang hadir disini. 
Gue berasal dari keluarga sederhana dan gue punya 1 saudari perempuan. Namanya adalah Mawar Ekasari, dia kakak gue. Dia cantik, baik, dan punya lesung manis di pipi. Setiap melihatnya gue selalu merasa apakah benar gue adalah adiknya? Gue menyadari bahwa gue amat berbeda dari segi fisik. Gue lebih dikenal dengan kulit yang cenderung sawo matang sedangkan kakak gue mempunya kulit yang putih. Namun gue selalu berfikir bahwa setiap manusia punya sesuatu yang berbeda bukan? 


BAGIAN 2 “Permulaan”
Awal yang menjadi permulaan atau bahkan penentu?
~
“San, Sandraaaaa”, teriak Cika dengan suaranya yang amat cempreng.

“Kenapa sih Cik? Apa? Ribut banget lo teriak”. Jawab Sandra

“Ngga ini baru dapat chat dari si Awan nih, katanya dia ngga masuk sekolah. Sakit katanya”. Tukas Cika.

“Yah personil kurang satu deh, tapi gila ya itu orang ngga ngabarin gue yang dikabarin lo aja!”   

“Perwakilan aja mungkin? Hahahaha” Balas Cika

Tiba-tiba segerombolan cowok-cowok populer di SMA PELITA ini lewat, seperti  biasa mereka semua terpana dengan Cika. Cika adalah anak yang manis namun dia cuek amat cuek tetapi tetap saja semuanya selalu melihat hanya kearah cika, bagaimana dengan gue? TIDAK TERLIHAT SAMA SEKALI!!. Sering sekali gue berfikir mengapa gue tidak cantik, mengapa gue seperti ini dan gue selalu merasa bahwa tidak akan ada yang melihat gue seperti mereka melihat Cika?. Cika tersadar bahwa gue langsung terdiam dan malas untuk berbicara bahkan mengembangkan senyum. Cika tau bahwa gue selalu merasa tak percaya diri jika bersama dia namun cika selalu berkata bahwa gue adalah versi terbaik yang diciptakan oleh Tuhan, dan gue harus bersuyukur atas hal itu!

“Jangan diem dong Sandra, lo itu cantik dimata orang yang tepat San dan mungkin mereka itu bukan orang yang tepat untuk lo.” 

“Iya Cik, gue masih berusaha untuk biasa aja, tapi ternyata susah banget ngebangun rasa percaya diri.”

“Lo pasti bisa San, ada gue sama Awan kok yang bakalan bantu lo.”

“Soswitt banget lo, hahahaha.” 

“Pisssssss, hahahaha.”

Kringgggggggg,,,,

“San masuk kelas yok udah bel nih cepetan.”

“Iya Cika ayok.”

Yap hari berjalan seperti biasanya….


BAGIAN 3 “PATAH" 
Saya seperti ditelantarkan tak tau arah. Menyebrangi pulau pikiran tanpa ada pengantar. Kamu tau bagaimana rasanya? Mari sini berbagi denganku, aku belum mahir mengolah rasanya.
~
Hari ini, Sandra menggantikan kakaknya untuk membantu Ayah yang berjualan makanan. Cukup banyak yang datang untuk membeli, kebanyakan dari mereka adalah langganan Ayah. 

“1 ya dibungkus ngga pake sambel.”  Ucap seorang pembeli.

“Baik ditunggu ya”. Jawab Ku

“Loh? Ini yang adik apa yang kakak?”

“Hahaha, saya yang adik om.” Jawab Sandra dengan malas.

“Oalah, beda ya dari wajah nya badan nya juga gede yang ini. Kakaknya malah yang kaya cocok jadi adik”. Tambahnya

Sandra cuma bisa diam dan mengembangkan senyum. Selalu dan selalu seperti ini. Mencoba tenang dan tidak memikirkan namun tidak bisa. Ingin menangis namun buat apa? Toh memang berbeda bukan?

“Om, ini pesanannya sudah totalnya Rp. 14.000 ya, terimakasih”. Ucapku 

Dalam hati Sandra “Akhirnya selesai, mari berusaha untuk tidak memikirkan kata-kata itu lagi.” Namun ternyata…

“Paklek nasi nya 2 makan sini ya yang kaya biasa lah pokoknya lek.” -pembeli

“Oke”  Ayahku menjawab

“Minumnya apa om?”  Tanyaku 

“Oh es teh 2 aja. Eh sebentar-sebentar kamu ini siapa kok ngga pernah keliatan.”

“Hahaha saya adik nya om, kakak saya lagi ga bisa bantu Ayah ada urusan soalnya.”  Jawabku

“Loh kamu yang adik? kok beda dari sang kakak? Kakak kamu putih loh, manis juga ada lesungnya. Cantikan kakak nya ya, hahaha.” 
Ucap lelaki yang berumur sekitar 35 tahun keatas, perkiraan Sandra. 

“Hahaha iya om.” Sandra menjawab dengan senyum yang dipaksakan
Tiba-tiba lelaki itu mengambil kacamatanya dan memperhatikan gue dari atas sampai bawah lalu berkata 

“Biasanya ya anak kedua itu lebih cantik dari sang kakak, tapi kok itu ngga berlaku dikamu ya?” 

“Dia mirip saya om, yang kakak mirip Ibunya.” Ayah ku menjawab.

Gue ngga tau gue harus bereaksi seperti apa, senyum gue tiba-tiba enggan untuk melengkung, gue ingin menangis. Gue ngerasa ingin kabur dari semua ini. Gue langsung masuk ke kamar dan kutumpahkan semua dikamar. Gue langsung berfikir apakah gue gapantes jadi manusia hanya karena gue berbeda dengan kakak gue? Apakah semuanya adalah kemauan gue? Dan apakah semuanya bisa gue pilih? Sampai akhirnya gue ngga tau harus bagaimana, gue merasa jatuh kedalam jurang yang amat sangat gelap dan tinggal gue disana. Gue terus nangis, gue terus mukul kepala gue sendiri sampai gue puas dan ternyata dada gue sakit. Gue terus kepikiran bagaimana caranya menggunakan kacamata, bagaimana perkataan jahatnya yang menrendahkan gue. Itu semua terus terulang-ulang bak kaset rusak. Gue capek. 


BAGIAN 4 “KETIKA SAYA PATAH LAGI” 
Ku pikir-pikir mungkin diluar sana banyak yang sedang membuka buku  kesehariannya, bernyanyi sambil berteriak lantang, dan bahkan ada yang menangis dengan diam dan tanpa suara. Itu semua adalah cara agar patah itu terobati
~
Kejadian pada malam itu yang membuatku seperti jatuh kejurang yang gelap. Semua itu masih terasa bahkan sampai aku bangun tidur. Masih dengan mata yang sembab, kamar yang berantakan dan gelap aku mengambil handphone serta mulai mencari nama Cika. 

“Hh-halo Cika”

“Sandra lo kenapa?? Suara lo serak. Lo nangis?”

“Cik, Gue capek. Gue ngerasa gapantes jadi manusia. Gue jelek, gue item, gue gendut. Kenapa Tuhan jahat banget sama gue? Kenapa gue ga kaya lo atau kakak gue. Gue capek mendam Cik, gue capek nangis sendiri, gg-gue capekk. Hikss.”

“San lo atur nafas dulu ya, tenangin diri. Lo ga berbeda lo itu sama. Sudah berapa kali gue jelasin bahwa jadi berbeda itu gapapa. Lo cantik! Lo ga sejelek yang lo bayangin. Orang itu dan semua orang yang nganggep lo beda, jelek, item atau apapun. Mereka ngga tau lo. Mereka ngga tau seberjuangnya lo buat senyumin semuanya, buat kelihatan baik-baik aja!.”

“Gg-gue capek Cik, omongan orang itu masih terputar jelas di kepala gue. Bagaimana dia pakai kacamata dan mandangin gue dari atas sampai bawah, ekspresinya. Gue hapal Cik. Gue sakit hati. Semua yang gue pendem akhirnya pecah.”

“San, kalau lo ga bisa nutup mulut mereka semua yang ngomongin lo, lo harus dan wajib buat nutup telinga lo atas omongan mereka semua, lo bisa gue yakin. Lo cantik gila aja."

“Udah dulu Cik, makasih udah mau dengerin cerita gue, ngasih saran gue. Gue gatau lagi harus mikir kayak gimana lagi.”

“Iya San, lo harus bangkit dan lo harus kuat. Tenangin diri lo San. Gue tutup ya telponnya?”

“Iya Cik.”

Tak berselang lama handphone Sandra Kembali berbunyi, ternyata Awan menelpon. 

“Halo, lo gapapa? Udah baikan?”

“Gue belum baikan tapi ya udah lebih baik dari sebelum ini nangisnya. Hehehe.”

“San, gue denger kok dari Cika, Semuanya. Gue tau lo pasti sedih, lo ngerasa rapuh banget. Tapi lo harus tau lo itu ga seburuk itu. Gapapa lo ga masuk standar kecantikan mereka, tapi lo bisa buat standar kecantikan lo sendiri. Banyak diluar sana  yang tanpa lo tau mereka semua mau jadi lo, lalu kenapa lo sekarang mau jadi orang lain? Mereka yang menjelekkan lo itu mungkin punya kekurangan tapi mereka ga sadar dan hanya melihat kekurangan orang lain San. Lo punya banyak kelebihan yang orang lain ga punya dan lo harus bersyukur atas semua itu. Atas diri lo, atas pencapaian lo, atas tubuh lo dan atas kebahagiaan lo. Cuma lo dan bukan orang lain.”

“Awannnn gue nangis lagi gara-gara lo! Gue Cuma mau bilang terimakasih atas semua saran lo yang bikin gue nangis tapi gue tenang. Gue akan berusaha lagi buat lebih banyak bersyukur atas semuanya.”

“Iya San, lo harus atur nafas sekarang dan, hapus semua air mata lo. Berusaha untuk menjadi standar cantik untuk diri lo sendiri mulai dari sekarang. Udah dulu San gue mau mandi. Dan lo jangan nangis lagi!!!”

“Iya Awannnn, makasih banyakkkk, lo memang sahabat terbaik gue hahaha”

“iyaa.” 

Tuttttt,,,, 

Telpon berakhir dan kesedihanku pun berakhir. Semua perkataan yang Cika dan Awan katakan ada benarnya. Gue ga boleh sedih lagi, gue ga boleh membenci diri sediri. Kalau gue pun ikutan benci dengan diri gue lantas siapa yang bisa menerima diri gue?


BAGIAN 5 “BERDAMAI”
Badai akan cepat surut bukan?
~
Sandra mulai bangkit dan menjalani hari-harnya seperti biasa. Mencoba untuk menutu telinga atas perkataan buruk tentang dirinya serta lebih bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan kepada dirinya. Memang tak semulus yang ia pikirkan, ia masih sedikit tidak percaya diri namun ini mungkin lebih baik dari hari terburuk malam itu.  Sandra mulai membuka catatan kecilnya dan mulai menarikan penanya diatas kertas putih nan bersih itu.

Sebenarnya saya masih sama. Saya masih belum bisa mengikhlaskan masa lalu saya, saya masih sedikit membenci diri saya sendiri dan saya mungkin masih belum bisa seutuhnya berdamai dengn apa yang saya dapatkan dimasa lalu. Saya mengerti mencintai diri sendiri adalah hal yang paling penting, saya sedang berusaha. Tolong bersabar dengan sikap saya sebentar lagi bisa? Saya mungkin bukan pemimpin yang baik untuk kepala saya sendiri dan saya mungkin bukan kepala yang baik untuk tubuh saya namun saya akan berusaha lebih baik untuk diri sendiri.

Sandra menutup kembali catatan kecilnya, ia menghela nafas dan Kembali kepada tujuannya yaitu berusaha menjadi lebih baik dari sebelumnya…..

 
 “Hanya sebuah perkataan namun dampaknya teramat besar. Tidak kah saling merendahkan tu tidak baik? Jangan menjadi jahat hanya karena sebuah pandangan lalu perbincangan. Mengolah kata untuk tidak menyakiti hati orang lain memang akan sulit dilakukan, tetapi apa salahnya dicoba kan???”
 
TAMAT