Rabu, 08 April 2020

TERSERAH~

                    TERSERAH~

    Kita tak tau arah, kemana akan kubawa cerita ini
 kita terlalu pasrah pada keadaan
kita terlalu egois untuk saling mengungkap
 dan hati terlalu lelah untuk menahan,
Selalu ada kata yang sering terucap yaitu terserah.










Namaku Damara Anisty, sebut saja si Ara. Aku anak kelas 11 IPA 4 SMA Bintang Samarinda. Yaps aku anak tari, maksudnya ikut eskul Tari hehe, biasanya tari yang aku dan temen-temenku bawakan adalah tari khas Kalimantan Timur yaitu tari Jepen.
Kalau aku si Kelvin Denandra Putra, sebut aja si Epin. Biasanya si aku di panggil Epin sama si Ara katanya panggilan kesayangan sih, kata Ara loh yaa. Dan aku adalah pacarnya Ara. Sudah sekitar 1 tahun lebih kami menjalani hubungan.
Namaku Tito Anugrah. Aku anak biasa yang kenal Ara dari kecil sampai sekarang. Yang suka denger keluh kesah Ara. Aku paling ganteng pokoknya di Smabis ( singkatan dari SMA Bintang Samarinda) jangan salah hehehe.
Aku terakhir deh, nama aku Aprilia Dwi Amalia. Kalau aku sih sama kayak si Tito yang katanya paling ganteng di Smabis, yaaaps aku temennya  Ara. Aku kenal Ara sih ga selama Tito ya baru pas kelas 10 ini. Panjang deh awal deket sama Ara, dari masa MPLS sampe akhirnya satu kelas, satu bangku, bahkan satu eskul bayangin!. 

Disinilah kisahku dimulai…….
















“Ara udah selesai belum latihannya aku capek banget ga bohong nunggu kamu Ra” cercah Tito.
“Sabarrrr dong, ini aku mau ganti baju. 10 menit kita meluncur pulang hehehe” balas Ara setelah keluar dari studio latihan.
  Pasti kalian bingung mengapa Ara tidak pulang bareng Epin, karena Epin harus latihan futsal soalnya mau ada turnamen. Ara dengan Epin telah resmi berpacaran terhitung sejak 1 tahun lalu. Lucu kalu diingat pertama kali Epin menyatakan perasaan di lapangan futsal bayangin pas aku nontonin Tito. Betapa malu banget tapi ya senang juga hehehe. Tapi semakin kesini keadaan hati semakin tidak karuan, kami ya seperti remaja pada umumnya yang berpacaran. Tapi karena kesibukan kami, dia yang harus fokus sama turnamen nya dan aku yang harus fokus pada ekskul ku jadi kami jarang punya waktu.
“To mampir ke kantin bentar yok.” ajak Ara saat perjalanan ke parkiran
“Mau ngapain lagi Ra? Mau makan? Dirumah ajalah aku mau cepet pulang bau banget badan ku ga tahan. Masa orang terganteng kayak aku bau badan ngga lucu banget asli ga lucu,” cerocos Tito
“Banyak banget omongan he, biasa aku mau beliin Epin minuman kasian kayaknya dia ga bawa minum deh.” Jawab Ara
“Cepet no lama, 10 menit ku tunggu di parkiran!” jawab Tito.
Setelah mendapatlan ijin dari sahabatnya yang super duper nyebelin dan banyak omong itu, Ara pun bergegas pergi ke kantin. Dia membeli minuman isotonik dan air mineral untuk dia dan Epin. Menurutnya perjalanan dari kantin ke lapangan futsal sekolahnya sangat menguras tenaga tak heran Ara di juluki sebagai ratu mageran oleh teman dan bahkan Epin, pacarnya. 

“Epinnn!” teriak Ara dipinggir lapangan
Epin pun menoleh. Ia dapat melihat dengan jelas wajah cantik pacarnya itu yang sedang membawakannya sebotol minuman, eh nggak sebotol deng tapi 2 botol yang ia tau ia akan mendapatkan hanya sebotol. Karena itu yang setiap hari di lakukan Ara membawakannya minum, satu untuk dia dan satu untuk Ara.

“Udah selsai latihan narinya?” tanya Epin dengan wajah berkeringat
“Udah, ini mau pulang bareng Tito. Yang semangat ya latihannya aku kesini Cuma mau ngantar minum soalnya aku tau kamu belum sempat beli minum” jawab Ara 
“Makasih. hati-hati pulangnya, sampe rumah makan terus istirahat. Nanti malam aku telpon.” Epin memberitahu
“ Laksanakan komandan hehe” jawab Ara 
Ara pun lansung bergegas menuju parkiran. Terlihat Tito telah menunggu di motor dengan wajah lelahnya. Setelah mengalami jalan yang panjang menuju rumah ia pun berterimakasih dan mengajak Tito masuk, tetapi Tito tidak bisa mampir. Lelah katanya. Heh ada-ada saja.
Ara pun masuk ke dalam rumahnya yang sederhana, ya cukup sederhana bagi seorang Damara Anisty. Damara memiliki 1 orang kakak laki-laki yang tak pernah bertegur sapa dengannya. Jujur Damara Lelah dengan semua kehidupannya dirumah. Ia ingin berpaling namun ia selalu ingat akan Ibunya yang terlalu baik untuknya. Ya Ara adalah anak yang biasa, sederhana dan penuh impian. ia juga tak tau mengapa kakaknya Vito sangat membenci dirinya. Vito selalu berbicara keras pada Ara saat Ara bertanya sesuatu, bahkan Vito pernah mengatakan bahwa ia tak ingin memiliki adik yang telah merebut segalanya milik Vito. Vito terlalu beranggapan bahwa adik akan selalu menjadi pusat perhatian semua orang terutama orang tuanya. Tapi tak begitu yang di alami Damara. Damara hanya merasa kasih sayang dari seorang Ibu karena Ayah Ara pun tak pernah mau menganggap Ara adalah putrinya. Ayahnya selalu menjauhi diri dari Ara bahkan tak pernah mau makan Bersama begitupun Vito. Damara Lelah untuk di paksa kuat tapi Ara selalu menampilkan senyum terbaiknya selama ini. Ia tak suka jika menceritakan keadaan keluarganya, ia cukup malu untuk mengungkap bahwa Ayah dan Kakaknya tak menginginkan Damara hadir. Damara tak suka ia dianggap lemah bahkan dikasih hani. Sejauh ini yang tau kisah hidup Ara adalah Tito, sahabatnya. 
Setelah ia masuk rumah dan mengucapkan salam, ia langsung bergegas menuju kamar. Ara pun langsung mandi karena tak tahan dengan keringat yang menempel. Setelah mandi ia pun melaksanakan sholat maghrib. Setelah selesai Ara pun membukan pesan dari Epin dan menunggunya untuk menelpon. Seperti sudah kebiasaan Ara setiap malam telponan dengan Epin, yaa Namanya juga bucin akut kan ya hehehe.
 
“Udah ya kututup telponnya, aku mau keluar beli sesuatu” sambung Epin
“ Okee, hati-hati. Aku mau belajar juga nih”jawab Ara.
Ara selalu memendam apa yang ia rasakan pada Epin ia terlalu takut mengungkapkan bahwa ia takut kehilangan Epin karena menurutnya Epin berbeda dengan cowok yang lain. Namun belakangan ini Ara merasa ada yang berbeda dari Epin, tak biasanya ia keluar malam untuk terus menerus membeli sesuatu. Terhitung sudah 3 hari Epin ijin seperti itu kepada Ara dan Ara selalu mengiyakan karena tak mau ambil pusing. Ara pun langsung bergerak menuju rak buku untuk mengambil buku pelajaran untuk besok, tak lama ponsel Ara berdering tanda bahwa seseorang menelpon dan ternyata si Aprilia yang menelpon. 
“Ya halo? Kenapa Lia?” jawab Ara
“Ra aku mau kasih tau sesuatu ya tapi jangan marah, please.” Cercah lia.
“Iya tentang apa dulu ini. Kok perasaan baru kali ini nelpon serius banget?” jawab Ara penasaran.
“Emm, aku tadi liat Epin jalan sama Cinta, kakak kelas kita Ra, dan aku udah sering banget liat mereka jalan.” Kata Lia berhati-hati karena takut sahabatnya marah.
“Ha? Demi apa, kenapa gak kasi tau dari kemaren-kemaren si. Sengaja ditutup-tutupin atau gimana Lia?” jawab Ara menahan tangis karena baru kali ini Epin tak jujur padanya.
“Ra jangan nangis bahkan jangan marah sama aku. Aku gamau buat kamu kepikiran aku selalu diem karena aku takut kamu kepikiran dan takutnya aku salah liat aku ga mau salah menduga.” Jawab lia
“Makasih Lia, aku mau tanya ke Epin nya langsung deh.” Kata Ara yang menahan tangisnya.
“Iya Ra, aku matiin ya telponnya, bay.” Jawab Lia dan sambungan terputus.
Ini yang dikhawatirkan oleh Ara. “Salah aku apa? Sampe kamu ga jujur gini sih. Andai kamu jujur mungkin aku ga akan dengar dari orang lain” kata Ara bergumam sendiri sambil menghubungi Epin, dan lagi-lagi tak bisa. Ara keluar kamar dan menuju ke dapur untuk minum karena selama telpon dengan Lia tenggorokan Ara sangat tercekat. 
Ara tau Cinta kakak kelas Ara, yang ia tau Cinta adalah siswa yang cukup populer dan hits dikalangan anak Smabis. Ara hanya ingin bertanya kepada Epin apakah dia benar-benar jalan bersama atau tidak. Kalau iya kenapa tak jujur dari awal, kenapa harus bohong. Setelah minum sambil memikirkan itu Ara kembali ke kamar namun sebelum itu ia berpapasan dengan Ibu dan Ayah Ara yang baru pulang, namun apa boleh buat setiap berpapasan Ayah Ara selalu melewatinya bahkan tak pernah menyapanya bahkan sekedar tersenyum. Dan yang menghangatkannya adalah Ibu Ara, Ibu Ara selalu berbicara bahwa akan ada suatu saat Ara sangat di sayangi oleh kakak dan Ayahnya itu, dan Ara selalu mengaminkan setiap perkataan Ibunya seraya  berharap hari itu akan tiba. Setelah masuk ke dalam kamar Ara segera tidur agar besok bisa berbicara langsung di sekolah dengan Epin.

“Bu aku berangkat ya, udah dijemput sama Epin soalnya hehehe.” Ara berbicara sambal berlari dan menyalimi Ibunya
“Ini nak bawa bekalmu, belum sarapan kok udah berangkat.” Jawab Ibu
“Ga enak udah dijemput. Yaudah aku berangkat. Assalamualaikum”
“Waalaikum salam, hati-hati nak” Teriak Ibu dari dapur
“Iya buuuu!” teriak Ara tak kalah nyaring 
“Ayok berangkat.” Kata Ara
“ Kenapa mukanya gitu banget, tumben juga mibta pagi banget berangkatnya?” tanya Epin.
“ Gapapa emang gini mukanya hehe, ayok berangkat,” jjawab Ara masi dengan raut wajah serius
Akhirnya mereka sampai di parkiran sekolah, karena ini masih sangat pagi jadi keadaan sekolah masih sangat sepi hanya beberapa siswa yang rajin yang telah dating sepagi ini ya termasuk kami yang sekali-sekali rajin hehe.
“Aku mau ngomong sama kamu,” Ara buka suara
“Iya ngomong apa?” jawab Epin dengan wajah yang tak kalah serius setelah mendapati muka pacarnya yang serius.
“Kamu tadi malam kemana? Tanya Ara tanpa basa-basi.
“Aku jalan sama teman-temanku, biasa nongkrong” jawab Epin
“Sudah 3 hari pin, yakin kamu nongkrong aja?” tanya Ara serius
“Iya beneran” jawab Epin
“Sejak kapan kakak kelas kita yang namanya Cinta itu jadi teman nongkrong kamu? Aku tau kok kalau kamu bohong. Kenapa ga jujur aja dari awal tapi kalau kamu memang jalan sama kak Cinta?” cerita Ara sambal menahan tangisnya
“Iya aku jalan sama Cinta. Udah beberapa hari terakhir dan maaf aku chattingan sama Cinta. Aku ngerasa nyaman sama dia, aku udah berulang kali mikir kenapa aku bisa nyaman sama dia dan ya yang terjawab adalah aku nyaman karena aku sepemahaman sama dia. Maaf aku nyakitin perasaan mu Ra, aku tau kamu sakit hati tapi maaf aku udah terlanjur nyaman bahkan suka sama Cinta Ra,” jawab Epin yang menatap kekasihnya dengan serius 
“ Oh begitu, yaudah aku bisa apa pin? Toh aku memaksakan apa yang gabisa atau bahkan gamau dipaksakan juga susah, ini udah masalah hati. Yang aku tau dulu aku nerima kamu karena kamu beda dari cowo yang lain ternyata sama aja ya, gada bedanya. Kamu bahkan udah mengklaim bahwa kamu jatuh cinta sama kak Cinta, kamu ngabaikan hubungan yang udah 1 tahun pin? Jahat banget ga si.” Jawab Ara dengan sesenggukan akibat menangis.
“ Ra aku minta maaf, tapi kita sampai sini aja ya. Aku juga udah mikir dan memang aku jahat banget berhak banget kamu marah tapi ya gimana hati aku udah nyaman sama Cinta Ra. Perasaan itu muncul sendiri. Maaf udah ngabaikan hubungan kita yang udah dilewatin 1 tahun ini. Dan makasih udah mau nemenin aku, sekarang kita masing-masing. Kamu harus fokus sama lomba nari mu, nanti aku nonton kamu kok. Kita bisa jadi teman.” Jawab Epin
“ Makasih pin udah mau nerima aku yang mageran, ga secantik kak Cinta ini dan ga bisa bikin kamu nyaman. Makasih pin, aku kekelas duluan.” Jawab Ara sambal menyeka air matanya.
Epin menatap kepergian mantan kekasihnya yang baru ia putuskan 1 menit yang lalu. Entah ini yang terbaik atau bukan kedepannya adalah konsekuensi untuk Epin. Disini di Lorong kelas Epin memutuskan Damara.
Damara berlari menuju kelas yang ia yakin pasti Tito dan Lia sudah datang ke kelas. Damara langsung duduk dan memeluk Lia. Karena Lia tersentak kaget Lia langsung mengerti bahwa Ara sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Tito yang mendengar Ara menangis langsung menghampiri dan bertanya pada lia Ara kenapa namun Lia hanya geleng-geleng kepala seraya menunjukkan bahwa ia tidak tahu.
 
“Ra, kamu kenapa? Ayok kita cerita yok?” Lia berbicara dengan lebut
“ Aku beliin es krim deh supaya kamu tenang tapi bayarnya harus pake cerita” bujuk Tito
Ara langsung menetralkan tangisnya dan menyeka air matanya seraya menatap kedua sahabtnya yang menunggunya untuk berbicara.

“ Salah banget ga si kalau aku terlalu takut kehilangan? Yang bahkan sekarang udah hilang. Percuma aku pertahanin Lia percuma.” Kata Ara
“ Ngomong apa si? Ngomong yang bener, cerita maksusdnya apa” Lia berbicara
“ Yang kamu tadi malem bilang ternyata bener, dia udah beberapa hari ini jalan sama kak Cinta. Tadi pagi udah ku tanyakan semua sama Epin dan Epin jawab dia emang udah jalan bareng, chattan bahkan Epin nyaman sama dia, dia bilang dia ga tau kenapa rasa itu bisa muncul Lia, To. Dia mutusin hubungan, dia udah minta maaf ta..tapi aku tetap aja sakit hati. 1 tahun kandas gitu aja karena nyaman, 1 tahun kami kandas karena perasaan baru muncul. Atau ini gara-gara aku yang selalu menterserahka keadaan, mengiyakan semua dengan anggapan takut dia berpaling?” Cerita Ara dengan terbata-bata karena sesenggukan.
Lia dan Tito kaget bukan main. Tito langsung keluar menemui Kelvin dan mengajaknya berbicara, bisa-bisanya dia membuat Ara yang begitu ia sayangi seperti adik sendiri menangis. Belum sempat melangkah ke pintu tangan Tito di pegang oleh Ara dan ia menggelengkan kepala. Memberi kode agar Tito tak usah menemui Kelvin.

“ Aku terlalu banyak mengambangkan permintaan, aku terlalu menterserahkan semua. Aku tau dia pasti jenuh dia pasti bosan. Dan ujungnya hanya sampai sini. Aku gapapa aku kuat, aku terima kok gapapa, yang dipaksa juga ga akan baik akhirnya. Terserah takdir aja buat jalan kedepannya gimana.” Ara berkata sambal tersenyum dan menyeka air matanya.
“ Kamu terlalu baik buat disakitin kaya gini Ra.” Tito membatin sambil tersenyum kearah Ara.
“ Ya udah ga usah nangis-nangis lagi jam pelajaran mau dimulai ni, jangan lupa nanti makan ngelupain juga butuh tenaga hehe.” kata Lia seraya menyemangati temannya yang tengah bersedih. 
“ Buat ini semua pelajaran, terserah di matamu bukan terserah di mata orang lain. Jangan terus berpasrah sama keadaan, terserah boleh tapi pada tempatnya. Ungkapkan apa yang memang itu ngga sesuai dengan kamu jangan terus iya-iya dan terserah, kamu sama dia sama-sama manusia yang kadang iya kadang tidak untuk memahami kata terserah.” Tito berbicara sambil terus menatap sahabat yang dia anggap adik sendiri.
“ Iya makasih To makasih Lia.” Jawan Ara sambil tersenyum
Di saat itulah tekat Damara untuk membiasakan diri tak bersama lagi dengan kelvin. Sesekali ia melihat Kelvin bermain futsal rasa rindu itu ada namun sekarang posisi penyemangat bagi Kelvin telah berganti arah ke Cinta. 
“ Perihal rasa ini biar aku yang pendam, aku telah berusaha melupakanmu tapi ya rindu selalu terselip untuk meminta keluar dari jalurnya dan aku berusaha menepisnya. Terimakasih pernah ada dan semoga Bahagia Kelvin Anugrah” batin Ara.
Lia dan Tito yang melihat Ara yang selalu berusaha tegar membuat mereka sedih. Ya lebih baik seperti ini, batin mereka.
Hari perlombaan tari antar kota pun di mulai, melalui perjalanan Panjang Damara berlatih setiap pulang sekolah Bersama Lia. Lia yang membawakan tarian Dayak yaitu Pecuk Kina yang merupakan Tarian yang menggambarkan perpindahan suku Dayak Kenyah dari daerah Apo Kayan ke daerah Long Segar serta Damara yang membawakan tarian Jepen dari daerah Kalimantan Timur yang berkembang di daerah pinggiran sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Lia dan Ara membawakan beserta teman-teman satu eskul tarinya dengan sekitar 15 peserta yang mengikuti perlombaan ini.perlombaan ini dilaksanakan di depan Kantor Gubernur Kalimantan Timur. Untuk merayakan hari jadi kota Samarinda. 
Setelah 6 peserta telah tampil saatnya Damara naik ke atas panggung beserta teman-teman satu kelompoknya. Damara sangat gugup dan dilihatnya wajah penonton alangkah kagetnnya bahwa mantannya yaitu si Kelvin atau Epin menontonnya, namun dia ditemani Cinta yang membuat Ara ingin menangis namun dia tetap fokus pada tariannya. Setelah selesai tampil Ara langsung menghampiri Tito yang juga menonton dirinya dan menunggu Lia yang belum tampil.
“ Gimana? Udah enakkan habis tampil, sekarang kita nontonin Lia”  Tito berkata
“ Aman bos kuh hehe” jawab Ara’
Tiba-tiba suara yang ia kenal memanggil Namanya, ya itu suara Epin.
“Ara” panggil Epin
“ Iya, kenapa pin?” jawab Ara seraya menoleh dan tersenyum
“Selamat ya, semoga hasilnya memuaskan. Aku ijin pulang ya. Kalau kamu udah pulang istirahat ya!” Kelvin berbicara
“Oh iya makasih ya pin sama kak Cinta udah sempetin buat nonton. Aamin semoga hasilnya memuaskan.” Ara menjawab sambil menahan sesak di dada, Tito yang paham akan gerak gerik Ara langsung merangkul memberikan semangat dan berbisik “ Udah, nontonin Lia aja dulu itu ga usah dipikirin dulu.” 
Setelah semua peserta selesai, acara yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Saatnya pembacaan nama pemenang. Daaannn tadaa Smabis mendapatkan juara 1 dan 2. Lia dan Ara meloncat kegirangan sambal memeluk Tito. “ Akhirnya terbayar sudah!!!” Ara dan Lia berbicara Bersama serta Tito menangguk. 
Karena masih siang Tito mengajak kedua sahabat tersayangnya untuk jalan ke Tenggrong khususnya Ladaya, ya walaupun jauh tetapi Lia dan Ara senang soalnya si  Tito mau neraktir atas kemenangan lomba kami. Saat sampai di dalam Damara langsung teringat pada kenangannya dulu saat ke sini Bersama Epin. Kami tertawa lepas namun skelebat kenangan itu selalu muncul yang membuatku selalu teringat. Damara selalu meyakinkan diri bahwa dia tak semenyedihkan itu. Sejenak ia melupakan kenangan indah bersama Kelvin dan kenangan buruk terhadap Ayah dan juga kakaknya.
“Aku selalu memaksakan diri untuk selalu Bahagia, agar orang lain tak tau bahwa aku terlalu sedih untuk menjalani hidup. Aku tak suka bila hidupku terlalu dibilang sedih, karena ini lah momen dimana aku bisa melupakan semua itu. Semoga seperti ini terus dan semoga harapan yang sama akan terwujud, aamiin.” Rintihan terserah dari seorang Damara Anisty.



                            ~

Selalu ada rintihan kata terserah pada setiap cobaan. Aku terlalu menterserahkan semua hingga terlihat jelas bahwa itu tidak baik.
Terserah harapanmu ke aku bagaimana yang jelas harapan ku tetap sama. Namun semua berubah kita telah selesai sampai disini.
Terserah telah menyakiti hati paling dalam, ketika kita terlalu menterserahkan keadaan.
 


TAMAT






Cerpen               : Risma Dwi Apriliyani
Kelas                  : XI Ipa 2
Mata Pelajaran : Bahasa dan Sastra                                 Indonesia

Sekian isi blog saya, jika cerpen yang saya buat masi ada kata-kata yang kurang berkenan dan banyak kesalahan atau ketypoan mohon dimaklumi, Terimakasih:)
  

12 komentar: